Kegiatan AIPI

Jargon “Awak Droe” Cuma Haba Jameun

 

ACEHJURNAL.COM, JAKARTA – Diskusi publik yang dilaksanakan oleh Asosiasi Ilmu Politik indonesia (AIPI) yang mengambil tema “Proyeksi Pilkada Aceh 2017 dan Masa Depan Demokrasi Lokal” di Auditorium Utama LIPI, Lt.2 Jakarta, Kamis, 13 Oktober 2016 telah selesai.

 

Diskusi tersebut menghadirkan enam pemateri yang expert di bidangnya, seperti Letjen TNI (Purn) Bambang Darmono (Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Aceh Periode 2002-2003) dengan mengambil judul “Aspek Polkam dalam Penyelenggaraan MoU Helsinki dan Pilkada Aceh”, Juha Christensen (Direktur PACTA Finland) “Evaluasi Pelaksanaan MoU Helsinki, DDR dan KKR”, Wahyudi Djafar, SH (Deputi Direktur Pengembangan Sumber Daya HAM, ELSAM) “Update Pelaksanaan MoU Helsinki, KKR dan Proyeksi Pilkada 2017”, Ridwan Hadi, SH (Ketua Komisi Independen Pemilihan Aceh 2013-2018) “Persiapan Pelaksanaan Pilkada Aceh”, Irjen Pol (Purn) Drs. H. Iskandar Hasan, S.H., M.H.* (Kapolda Aceh Periode 2010-2012) “Keamanan dan Ketertiban dalam Pilkada Aceh” dan Titi Anggraini (Direktur Eksekutif Perludem)
“Ulasan Terhadap Pilkada Aceh dari Sudut Pandang Non Pemerintah”.

 

Rangkuman diskusi tersebut seperti kami kutip dari Facebook Saiful Mahdi adalah penggunaan jargon-jargon etnonasionalisme dalam Pilkada tak lebih dari kepentingan sesaat elit mantan GAM untuk meraih suara rakyat alias tak lebih dari jargon dan janji kosong. Kenapa? Karena perjuangan ideologis GAM setelah HT tak ada lagi yang melanjutkan. Ideologi itu bahkan paling lemah di partai lokal yang berkuasa seperti yang terlihat pada kinerjanya selama ini. Jadi? Jangan percaya lagi kalau ada usaha menggiring pada semangat ke-Aceh-an yang semu-semu itu!.

 

Dari rangkuman tersebut mengatakan jargon-jargon yang selama ini diagungkan oleh salah satu partai lokal sudah tidak sesuai lagi dengan konstek kekinian, karena akar masalah sekarang adalah kesejahteraan bagi masyarakat yang jauh dari harapan.

Disamping itu, masyarakat sudah apatis dengan istilah “Awak Droe”. Dikarenakan, istilah-istilah tersebut hanya didengungkan saat pilkada saja dan setelah itu menguap begitu saja. Jadi jargon tersebut hanya kepentingan partai lokal saja dan bukan untuk kemaslahatan rakyat Aceh.

 

Diskusi tersebut diawali dengan makan siang bersama pukul 12.00 Wib dan berakhir 16.30 Wib dengan moderatornya Irine Hiraswari Gayatri, S.Sos, MA. (JR7)

 

Sumber: http://acehjurnal.com/2016/10/13/jargon-awak-droe-cuma-haba-jameun/

 

Leave your comments

0 Character restriction
Your text should be more than 10 characters
Your text should be less than 300 characters
terms and condition.
  • No comments found