Blog

Komisi Advokasi AIPI

AIPI untu Peradaban, Kemanusiaan dan demokrasi substansial.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Login

Politik Lingkungan dan Banjir Jakarta?

Ditulis oleh pada di Politik
  • Font size: Larger Smaller
  • Mendaftar pada tulisan ini
  • Print

Ditulis oleh Syafuan Rozi(Komisi Advokasi AIPI)

 

Perbincangan soal politik lingkungan dan banjir Jakarta tampaknya tidak bisa lepas dari tanggung jawab negara dan masyarakat. Negara pun perlu melakukan kerja sama politik antar bangsa untuk secara sinergis saling dukung mengurangi dan menghindari bencana akibat kerusakan dan pengrusakan lingkungan. Bisa dikatakan bahwa ”states should committed to pursuing sustainable development across the region –it calls for a clean and green environment- with fully established mechanisms for sustainable development to ensure the protection of the environment, the sustainability of its natural resources and the high quality of life of its people and naigbhours in one earth”.

 

Terkait persoalan di atas maka prinsip yang perlu dikedepankan bagi setiap negara dalam membangun adalah prinsip berkelanjutan, memikirkan nasib generasi

mendatang dan memperhitungkan naiknya kualitas kehidupan anak negeri dan tetangga

sebumi. Prinsip ini sebenarnya telah lama ada dan hidup sebagai warisan dari nenek moyang yang tergambar dari pepatah yang mengatakan ”Bila tangan mencencang bahu akan memikul”yang maknanya, jika kita merusak keseimbangan alam maka kita pulalah yang akan menuai bencana alam”.

 

Pepatah ini membawa konsekuensi makna bahwa menjaga lingkungan adalah

menjadi tanggung jawab kita bersama. Lingkungan adalah titipan berharga yang perlu

dipelihara dengan baik, karena merupakan hak anak cucu kita sebagai generasi mendatang. Dimulai dari regenerasi tanaman yang dimulai dari masing-masing kita untuk mulai menyempatkan diri menanam satu pohon di setiap kelahiran anak dan cucu kita karena berdasarkan penelitian satu pohon bisa berguna bagi kehidupan dua makluk di masa yang akan datang. Persoalan regenerasi tanaman ini akan membawa manfaat tidak saja bagi kita dan generasi mendatang tetapi juga pada lingkungan sekitar.

Dalam konteks politik, keselamatan lingkungan akan menjadi pilihan agenda jika iklim

demokrasi yang ada memberi ruang bahwa isu-isu lingkungan menempati agenda prioritas.

Hanya saja dalam prakteknya iklim demokrasi tidak serta merta menjadikan isu lingkungan menjadi agenda utama. Dalam beberapa hal demokrasi kadangkala justru berpotensi menelantarkan agenda lingkungan. Prioritas agenda lingkungan biasanya tumbuh seiring dengan beradunya wacana yang dibawakan oleh para ilmuwan dengan dukungan aktifis lingkungan dan ‘pergerakan demokrasi hijau’, yang bisa disebut sebagai ekodemokrasi atau biokrasi, yang melakukan inovasi kelembagaan dan praktik yang menuntut adanya keberlanjutan terhadap daya dukung lingkungan dan suasana demokratis yang mengawalnya.

 

Demokrasi yang pro lingkungan ini tumbuh dan dihdapkan pada aneka tuntutan baru yang

kesemuanya bermuara pada segala hal yang sensitif terhadap lingkungan. Dari membangun

sistem politik yang sensitif lingkungan (green policies) dengan dukungan asketisme-spritual yang mengingatkan ada kehidupan setelah mati dan ada sebab-akibat, pahala dan siksa. Selain itu juga tersedianya partai-partai yang sensitif lingkungan dan menjadikan lingkungan hidup sebagai platform utamanya (green parties). Dalam membentuk setiap kebijakanpun harus mampu menimbang aspek lingkungan (green policies). Anggaran belanja negara dan daerah juga harus menimbang aspek lingkungan dan memobilisasi dana yang layak bagi pengelolaan lingkungan (green budget). Sampai-sampai membutuhkan pula green-onliner (komunitas jejaring dunia maya yang peduli lingkungan). Semuanya bermuara dari niat yang baik dan amal yang nyata. (Syafuan Rozi)

 

Lebih jauh dapat dibaca dalam:

A Caleidoscope of Environmental Security: Indonesian and Malaysian Perspectives. Editor: Rizal M. Yaakop, Syafuan Rozi, & Azrai Hj. Abdullah Page: i-xvi, 168 hlm. (Jakarta: Madani Press, 2009)

 

Rate this blog entry:
0
Trackback URL for this blog entry.
Syafuan Rozi bekerja untuk Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI sejak bulan Maret 1999 di lembaga tersebut. Sebelumnya ia menjadi asisten dosen di Departemen Ilmu Politik FISIP UI dan peneliti di Laboratorium Ilmu Politik UI. Alumnus S1 dan S2 Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) ini selain mengajar di almamaternya untuk matakuliah Pengantar Ilmu Politik, Sistem Politik Indonesia dan Politik Kebijakan Publik, juga menjadi dosen tamu di IISIP Jakarta untuk perkuliahan Konflik dan Konsensus, Politik Perkotaan, Perubahan Sosial Ekonomi dan Dinamika Politik, serta HI Kawasan. Minat kajiannya antara lain seputar Analisis Kebijakan/Politik Kebijakan Publik, Reformasi Birokrasi, hubungan Indonesia-Malaysia, Partai, Pemilu dan Parlemen, dan Politik Lingkungan. Beberapa bukunya antara lain: ‘Birokrasi dan Demokratisasi di Indonesia’ (Seri Penerbitan PPW LIPI, 2001), Zaman Bergerak Birokrasi Dirombak (Pustaka Pelajar, 2006), Kekerasan Komunal (Pustaka Pelajar, 2007), A Kaleidoskop of Environmental Security: Indonesian and Malaysian Perspectives (Jakarta: LIPI, UKM, UTP, Madani Press, 2009). Politik, Governans & Isu-isu Lingkungan Alam Sekitar (Jakarta: LIPI, UKM, UTP, Madani Press, 2010). Efriza & Syafuan Rozi -Menembus Lorong Waktu Doeloe, Kini, dan Ke Depan• Parlemen Indonesia: Geliat Volksraad Hingga DPD (Alfabeta, 2010), Dialog Sebumi 3 (UKM-P2P LIPI, 2010), Jurnal Kajian Wilayah Vol.1 No.2. 2010, “Cyber clash di dunia maya: cyberwar dan conflict resolution Indonesia-Malaysia”. Politik Indonesia Malaysia, (UI-LIPI-UKM, 2011). Pendiri Lembaga Kompetensi Indonesia (Indonesian Institute for Competency) Jakarta dan Rafflesia Society Foundation (RSF) ini juga aktif sebagai anggota Komisi Advokasi dan Pengmas di Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) (2002- sekarang).



Email: [email protected], [email protected]

Leave your comments

0 / 500 Character restriction
Your text should be in between 10-500 characters
terms and condition.
  • No comments found

Profil Penulis

AIPI untu Peradaban, Kemanusiaan dan demokrasi substansial....

Komentar terbaru

Belum ada komentar.

Blog Arsip